Selama beberapa dekade, industri event terbagi menjadi dua kubu besar: fisik (offline) dan digital (online). Namun, memasuki tahun 2026, batasan tersebut resmi runtuh dengan munculnya tren Phygital Synchronicity. Teknologi ini memungkinkan sinkronisasi sempurna antara kehadiran fisik dan interaksi digital secara real-time, menciptakan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya.
Jika dulu “hybrid event” hanya berarti menyediakan live streaming bagi penonton di rumah, Phygital Synchronicity membawa interaksi dua arah yang setara. Penonton di lokasi fisik dan penonton virtual dapat saling melihat, berinteraksi, bahkan berbagi “panggung” yang sama melalui teknologi spatial computing dan hologram.
Bukan Sekadar Layar, Tapi Kehadiran Nyata
Kunci dari inovasi ini adalah kemampuan teknologi untuk menghilangkan jeda (latency). Dengan dukungan infrastruktur 5G dan 6G yang semakin matang, data visual dalam jumlah besar dapat dikirimkan secara instan.
Cathy Hackl, seorang pakar teknologi masa depan yang dikenal sebagai “Godmother of the Metaverse” dan CEO dari Spatial Dynamics, telah lama memprediksi pergeseran ini. Dalam sebuah diskusi mengenai masa depan teknologi imersif, ia menyatakan:
“Dunia fisik sedang menjadi sesuatu yang bisa diklik secara digital (digitally clickable). Kita tidak lagi hanya beralih antara dunia fisik dan digital, melainkan hidup dalam sinkronisasi keduanya. Ini bukan tentang melarikan diri dari realitas, melainkan meningkatkan realitas kita melalui lapisan digital.”
Spatial Computing sebagai Katalisator
Inovasi ini semakin dipercepat oleh adopsi perangkat spatial computing. Penyelenggara event kini tidak lagi terbatas pada luasnya gedung, karena mereka bisa menambahkan elemen digital yang terasa nyata bagi pengunjung yang menggunakan kacamata AR (Augmented Reality).
CEO Apple, Tim Cook, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa teknologi AR akan mengubah cara manusia berkumpul. Ia menyebutkan:
“AR adalah teknologi yang mendalam (profound technology) yang akan mempengaruhi segalanya. Bayangkan bisa berkolaborasi dan melihat hal-hal yang sama secara digital di ruang fisik yang sama. Ini akan memperkuat hubungan manusia, bukan menggantikannya.”
Implementasi Nyata: Dari Konser hingga Konferensi
Contoh nyata dari tren ini adalah gelaran Ultraverse Festival yang baru-baru ini menyita perhatian. Dengan menghubungkan tiga kota (Jakarta, Surabaya, Bali) melalui portal visual, penonton di Surabaya bisa melihat dan berinteraksi dengan penonton di Bali seolah-olah mereka dipisahkan oleh kaca transparan, bukan oleh jarak ratusan kilometer.
Bagi penyelenggara, Phygital Synchronicity menawarkan solusi atas keterbatasan kapasitas venue. Sebuah konferensi di Surabaya yang hanya berkapasitas 1.000 orang secara fisik, kini bisa diikuti oleh 10.000 orang lainnya secara “phygital” dengan kualitas interaksi yang hampir identik.
Masa Depan yang Inklusif dan Tanpa Batas
Tren ini juga membawa angin segar bagi inklusivitas. Mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau kendala biaya untuk bepergian kini tetap bisa merasakan energi sebuah acara secara nyata dari lokasi masing-masing.
Industri event bukan lagi soal di mana Anda berada, melainkan bagaimana Anda terhubung. Phygital Synchronicity membuktikan bahwa teknologi, jika digunakan dengan tepat, justru akan membuat pengalaman kemanusiaan kita terasa lebih kaya dan tak terbatas. (*)