Connect with us

Inovasi

Indonesia Siapkan Roadmap AI Nasional, Target Jadi Pemimpin Inovasi di Asia Tenggara

Published

on

Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menyusun Roadmap Kecerdasan Artifisial Nasional sebagai langkah strategis menuju penguatan ekosistem digital dan transformasi teknologi. Roadmap ini akan menjadi panduan utama pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) di Indonesia hingga tahun 2030, mencakup aspek regulasi, investasi, talenta digital, hingga pemanfaatan di sektor-sektor strategis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut bahwa roadmap tersebut akan rampung pada akhir Juli dan dibuka untuk uji publik mulai Agustus 2025. Dokumen ini akan menjadi dasar penyusunan regulasi dan kebijakan terkait pengembangan AI di Indonesia, yang ditargetkan selesai dan diresmikan melalui peraturan presiden pada September mendatang.

Dalam penyusunannya, pemerintah menggandeng berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi seperti UI, ITB, dan UGM, hingga lembaga internasional seperti Japan International Cooperation Agency (JICA). Kolaborasi ini juga melibatkan Korika (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial), yang dipimpin oleh Prof. Hammam Riza. Ia menegaskan bahwa roadmap ini tidak sekadar meniru strategi negara lain, melainkan disusun berdasarkan konteks sosial, budaya, dan kebutuhan Indonesia.

Roadmap AI Nasional akan mencakup tujuh pilar utama, yakni: etika dan tata kelola AI, penguatan regulasi data, pengembangan talenta digital, riset dan inovasi, infrastruktur pendukung, pemanfaatan di sektor prioritas seperti kesehatan, pertanian, pendidikan, serta jaminan kedaulatan teknologi. Pemerintah juga memastikan bahwa prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam penggunaan AI akan menjadi pijakan utama dalam dokumen ini.

Salah satu tujuan utama dari roadmap ini adalah menarik investasi asing. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan AI, terutama karena memiliki populasi muda yang melek teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat. Perusahaan global seperti Microsoft dan Nvidia telah menunjukkan minat besar, bahkan Microsoft mengumumkan investasi sebesar USD 1,7 miliar untuk pengembangan cloud dan AI di Indonesia dalam empat tahun ke depan.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kesenjangan talenta digital, hingga risiko keamanan data dan misinformasi yang dapat ditimbulkan oleh teknologi AI. Pemerintah berkomitmen untuk membangun kerangka regulasi yang adaptif dan etis, serta memperkuat pengawasan melalui audit independen.

Dengan hadirnya roadmap ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pelaku utama dalam pengembangan dan inovasi kecerdasan artifisial di kawasan Asia Tenggara. (*)

Continue Reading

Inovasi

Solusi Anti Bingung di Pameran: Kenalan dengan Teknologi AI Concierge

Published

on

Pernahkah Anda merasa bingung saat datang ke sebuah pameran besar dengan ratusan tenant? Atau merasa membuang waktu di sesi seminar yang ternyata tidak relevan? Masalah klasik dunia event ini segera berakhir berkat hadirnya AI Concierge.

Inovasi ini membawa personalisasi ke level yang jauh lebih dalam. Bukan lagi sekadar aplikasi jadwal digital, AI kini bertindak sebagai asisten pribadi yang memahami minat, kebutuhan, hingga target networking setiap pengunjung secara unik.

AI Concierge bekerja dengan mempelajari profil peserta sejak tahap registrasi. Dengan izin pengguna, AI dapat menganalisis minat atau riwayat profesional untuk menyusun agenda “pribadi”.

Misalnya, pada ajang BCA Singapore Airlines Travel Fair, seorang pengunjung tidak perlu lagi memilah ratusan brosur. AI akan langsung memberikan rekomendasi rute perjalanan, pilihan hotel, hingga estimasi anggaran yang dipersonalisasi hanya dengan memindai profil minat atau destinasi impian yang pernah mereka bagikan di media sosial.

AI Bukan Lagi Sekadar Chatbot

Transisi dari aplikasi statis ke asisten proaktif ini diakui oleh para ahli teknologi event dunia. Julius Solaris, analis teknologi event terkemuka sekaligus pendiri Boldpush, menegaskan bahwa peran AI telah bergeser dari sekadar alat pencarian menjadi agen yang cerdas.

“AI di dalam sebuah event kini bertransformasi dari fungsi ‘pencarian’ menjadi fungsi ‘concierge’. Ia tidak lagi menunggu Anda bertanya, tetapi ia memprediksi apa yang Anda butuhkan dan memberikan rekomendasi yang paling relevan untuk meningkatkan nilai waktu Anda di acara tersebut.”

Senada dengan hal tersebut, laporan dari Gartner mengenai tren teknologi strategis menyebutkan bahwa hyper-personalization adalah kunci untuk menjaga keterikatan konsumen di masa depan.

Networking yang Lebih Akurat

Salah satu fitur paling revolusioner dari AI Concierge adalah kemampuannya dalam Smart Networking. AI dapat mencarikan rekan bisnis atau sesama hobi yang memiliki kecocokan profil hingga 90%, lalu menjadwalkan pertemuan singkat di area lounge.

“AI membantu menghilangkan kecanggungan saat bertemu orang baru di sebuah acara besar. Ia memberikan alasan yang kuat mengapa dua orang harus berbicara satu sama lain,” tulis riset dari EventMB.

Dengan AI Concierge, setiap orang akan merasakan pengalaman event yang berbeda-beda meski berada di satu lokasi yang sama. Inovasi ini memastikan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia dan setiap detik yang dihabiskan pengunjung memberikan nilai maksimal. (*)

Continue Reading

Inovasi

Menembus Batas Ruang: Era ‘Phygital Synchronicity’ Ubah Wajah Event Masa Depan

Published

on

Selama beberapa dekade, industri event terbagi menjadi dua kubu besar: fisik (offline) dan digital (online). Namun, memasuki tahun 2026, batasan tersebut resmi runtuh dengan munculnya tren Phygital Synchronicity. Teknologi ini memungkinkan sinkronisasi sempurna antara kehadiran fisik dan interaksi digital secara real-time, menciptakan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya.

Jika dulu “hybrid event” hanya berarti menyediakan live streaming bagi penonton di rumah, Phygital Synchronicity membawa interaksi dua arah yang setara. Penonton di lokasi fisik dan penonton virtual dapat saling melihat, berinteraksi, bahkan berbagi “panggung” yang sama melalui teknologi spatial computing dan hologram.

Bukan Sekadar Layar, Tapi Kehadiran Nyata

Kunci dari inovasi ini adalah kemampuan teknologi untuk menghilangkan jeda (latency). Dengan dukungan infrastruktur 5G dan 6G yang semakin matang, data visual dalam jumlah besar dapat dikirimkan secara instan.

Cathy Hackl, seorang pakar teknologi masa depan yang dikenal sebagai “Godmother of the Metaverse” dan CEO dari Spatial Dynamics, telah lama memprediksi pergeseran ini. Dalam sebuah diskusi mengenai masa depan teknologi imersif, ia menyatakan:

“Dunia fisik sedang menjadi sesuatu yang bisa diklik secara digital (digitally clickable). Kita tidak lagi hanya beralih antara dunia fisik dan digital, melainkan hidup dalam sinkronisasi keduanya. Ini bukan tentang melarikan diri dari realitas, melainkan meningkatkan realitas kita melalui lapisan digital.”

Spatial Computing sebagai Katalisator

Inovasi ini semakin dipercepat oleh adopsi perangkat spatial computing. Penyelenggara event kini tidak lagi terbatas pada luasnya gedung, karena mereka bisa menambahkan elemen digital yang terasa nyata bagi pengunjung yang menggunakan kacamata AR (Augmented Reality).

CEO Apple, Tim Cook, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa teknologi AR akan mengubah cara manusia berkumpul. Ia menyebutkan:

“AR adalah teknologi yang mendalam (profound technology) yang akan mempengaruhi segalanya. Bayangkan bisa berkolaborasi dan melihat hal-hal yang sama secara digital di ruang fisik yang sama. Ini akan memperkuat hubungan manusia, bukan menggantikannya.”

Implementasi Nyata: Dari Konser hingga Konferensi

Contoh nyata dari tren ini adalah gelaran Ultraverse Festival yang baru-baru ini menyita perhatian. Dengan menghubungkan tiga kota (Jakarta, Surabaya, Bali) melalui portal visual, penonton di Surabaya bisa melihat dan berinteraksi dengan penonton di Bali seolah-olah mereka dipisahkan oleh kaca transparan, bukan oleh jarak ratusan kilometer.

Bagi penyelenggara, Phygital Synchronicity menawarkan solusi atas keterbatasan kapasitas venue. Sebuah konferensi di Surabaya yang hanya berkapasitas 1.000 orang secara fisik, kini bisa diikuti oleh 10.000 orang lainnya secara “phygital” dengan kualitas interaksi yang hampir identik.

Masa Depan yang Inklusif dan Tanpa Batas

Tren ini juga membawa angin segar bagi inklusivitas. Mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau kendala biaya untuk bepergian kini tetap bisa merasakan energi sebuah acara secara nyata dari lokasi masing-masing.

Industri event bukan lagi soal di mana Anda berada, melainkan bagaimana Anda terhubung. Phygital Synchronicity membuktikan bahwa teknologi, jika digunakan dengan tepat, justru akan membuat pengalaman kemanusiaan kita terasa lebih kaya dan tak terbatas. (*)

Continue Reading

Inovasi

Invisible Tech: Bagaimana Logistik Otomatis Menjadi “Pahlawan Tanpa Wajah” di Balik Suksesnya Event Masa Depan

Published

on

Foto: smart-storage.eu

Dalam sebuah acara besar, keberhasilan sering kali diukur dari apa yang terlihat di atas panggung: tata lampu yang megah, suara yang menggelegar, atau konten yang memukau. Namun, di balik tirai estetika tersebut, sebuah revolusi sedang terjadi. Teknologi logistik otomatis—atau yang sering disebut sebagai Invisible Tech—kini menjadi tulang punggung yang memastikan operasional berjalan tanpa hambatan, aman, dan efisien.

Bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, penggunaan robot otonom, drone, dan sensor IoT (Internet of Things) mulai menjadi standar baru dalam manajemen acara berskala besar.

1. Drone: Mata Pintar untuk Keamanan dan Manajemen Kerumunan

Jika dulu drone hanya digunakan untuk dokumentasi video udara, kini fungsinya telah bergeser ke arah keamanan tingkat tinggi. Menurut laporan dari Goldman Sachs, pasar drone untuk penggunaan komersial dan sipil terus meningkat karena kemampuannya dalam melakukan pemantauan real-time yang jauh lebih efektif dibandingkan CCTV statis.

Di acara-acara besar seperti festival musik atau pameran internasional, drone yang dilengkapi dengan AI dapat mendeteksi titik kepadatan kerumunan sebelum terjadi desak-desakan (crowd crush). Teknologi ini memungkinkan tim keamanan untuk bertindak preventif, mengarahkan arus massa secara lebih halus tanpa mengganggu kenyamanan peserta.

2. Autonomous Mobile Robots (AMR): Pengantar Logistik Tanpa Lelah

Logistik internal dalam sebuah venue sering kali menjadi titik paling melelahkan dan rentan kesalahan manusia. Di sinilah peran Autonomous Mobile Robots (AMR) masuk. Berbeda dengan robot pabrik yang kaku, AMR menggunakan sensor LiDAR untuk bernavigasi di antara kerumunan manusia tanpa menabrak.

Berdasarkan studi dari McKinsey & Company mengenai masa depan logistik, otomatisasi dalam pengiriman barang “last-mile” dapat mengurangi biaya operasional hingga 40%. Di dunia event, robot seperti ini mulai digunakan untuk mengantar makanan ke meja VIP, membawa peralatan teknis dari gudang ke panggung, hingga menjadi tempat sampah berjalan yang menjaga kebersihan venue secara otomatis.

3. Sensor IoT: Mengelola Lingkungan yang Tidak Terlihat

Inovasi paling “tak terlihat” namun krusial adalah integrasi sensor IoT. Sensor-sensor ini bekerja di latar belakang untuk memantau segala sesuatu mulai dari kualitas udara (CO2), suhu ruangan, hingga tingkat hunian toilet secara real-time.

Mengutip data dari Gartner, penggunaan IoT dalam manajemen gedung (Smart Building) membantu penyelenggara mengoptimalkan penggunaan energi. Misalnya, AC hanya akan bekerja maksimal di area yang padat orang, dan tim kebersihan hanya akan dikirim ke area yang sensornya menunjukkan penggunaan tinggi. Hasilnya? Operasional yang jauh lebih ramah lingkungan dan efisien secara biaya.

Efisiensi yang Meningkatkan Pengalaman Manusia

Tujuan akhir dari semua teknologi otomatis ini bukanlah untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya, melainkan untuk membebaskan staf dari tugas-tugas repetitif dan berat. Dengan logistik yang berjalan otomatis secara “tak terlihat”, penyelenggara dapat lebih fokus pada interaksi interpersonal dan kualitas konten yang disajikan.

“Teknologi terbaik adalah teknologi yang tidak terasa keberadaannya karena ia bekerja begitu mulus di latar belakang,” ungkap para pakar inovasi. Di masa depan, sukses tidaknya sebuah event mungkin tidak lagi ditentukan oleh seberapa keras kita bekerja di lapangan, tetapi seberapa cerdas kita mengintegrasikan Invisible Tech dalam operasional harian. (*)

Continue Reading

Trending