Di era smartphone dan koneksi 5G, Feed media sosial bergerak lebih cepat dari detak jantung kita. Setiap unggahan, setiap story, dan setiap like menciptakan suara bising digital yang konstan. Dampaknya? Jutaan orang, terutama Generasi Z dan milenial, hidup dalam kondisi FOMO (Fear of Missing Out)โrasa cemas karena takut tertinggal dari pengalaman atau informasi yang dimiliki orang lain.
Namun, di tengah hiruk pikuk ini, muncul gerakan tandingan yang menyegarkan: JOMO (Joy of Missing Out). Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering kali ditemukan saat kita sengaja menjauh dari layar. Pertanyaannya, kapan sebenarnya kita harus menekan tombol mute pada dunia digital demi kesehatan mental kita?
Biaya Tersembunyi dari Overload Informasi
Otak manusia tidak dirancang untuk memproses aliran informasi tanpa henti. Ketika kita terus-menerus mengecek notifikasi, kita memaksa otak bekerja dalam mode multi-tasking yang dangkal.
- Gangguan Hormonal: Setiap notifikasi yang masuk memicu pelepasan hormon dopamin (hormon reward), yang membuat kita ketagihan dan terus-menerus mencari stimulasi berikutnya. Namun, ketergantungan ini juga meningkatkan kadar kortisol (hormon stres), yang berkontribusi pada kecemasan kronis dan kelelahan mental (digital fatigue).
- Perbandingan Sosial: FOMO memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Apa yang kita lihat di media sosial seringkali adalah highlight reel (momen terbaik) orang lain, bukan kenyataan. Hal ini dapat merusak harga diri, memicu perasaan tidak memadai, dan bahkan meningkatkan risiko depresi.
- Attention Residue: Bahkan setelah meletakkan ponsel, pikiran kita masih tertinggal pada apa yang baru saja kita lihat. Fenomena attention residue ini merusak fokus dan menghambat kita untuk benar-benar hadir dalam pekerjaan atau interaksi offline.
Menerapkan JOMO: Seni Menikmati Ketenangan
JOMO bukanlah tentang berhenti total dari media sosial, melainkan tentang membangun batas yang sehat. Ini adalah filosofi yang mengajarkan kita untuk menghargai momen dan interaksi nyata di atas validasi digital.
Berikut adalah taktik praktis untuk menerapkan JOMO dan memulihkan ketenangan otak:
1. Tetapkan Zona Bebas Digital (Digital-Free Zones)
Tentukan area dan waktu di rumah yang sepenuhnya bebas dari gadget, seperti meja makan, kamar tidur, atau 30 menit pertama setelah bangun tidur. Kamar tidur adalah yang paling krusial; jadikan tempat tidur hanya untuk tidur, bukan untuk scrolling.
2. Matikan Notifikasi yang Tidak Penting
Sebagian besar notifikasi hanyalah distraction (pengganggu). Matikan semua notifikasi yang tidak bersifat urgent (seperti like, komentar, atau update dari game). Sisakan hanya notifikasi dari panggilan telepon dan pesan penting.
3. Praktekkan Single-Tasking
Ketika Anda sedang bekerja, fokuslah hanya pada satu tugas. Ketika Anda sedang makan, fokuslah pada rasa makanan. Ketika Anda bersama teman atau keluarga, hadirlah sepenuhnya dengan menyimpan ponsel di tas. Ini akan meningkatkan kualitas interaksi dan produktivitas Anda.
4. Audit Aplikasi Secara Berkala
Periksa waktu penggunaan layar (Screen Time) Anda. Hapus aplikasi yang paling banyak menyita waktu namun tidak memberikan nilai positif bagi hidup Anda. Gunakan greyscale mode (mode hitam-putih) untuk mengurangi daya tarik visual yang membuat Anda terus-menerus ingin membuka aplikasi.
Mengelola digital well-being adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan mental modern. Dengan sengaja memilih JOMO di atas FOMO, kita tidak hanya mengurangi kecemasan, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas, fokus, dan yang terpenting, koneksi yang lebih dalam dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. (*)