PONOROGO – Jumat malam (6/2/2026), rintik gerimis mulai membasahi aspal Jalan HOS Cokroaminoto, Ponorogo. Di depan gerbang selatan SMPN 1 Ponorogo, sebuah tenda kaki lima tampak benderang di tengah sunyinya kota yang mulai beranjak tidur. Namun, ada yang berbeda dari warung berlabel Geprek Petir ini. Bukannya suara bising kendaraan atau musik radio biasa, telinga pengunjung justru dimanjakan oleh lengkingan saxophone yang membawakan lagu klasik “Juwita Malam”.
Di bawah tenda sederhana itu, sebuah band bernama Black Jazz sedang beraksi. Pemandangan ini kontras sekaligus memikat: kepulan uap ayam geprek panas bertemu dengan harmoni piano, gitar, dan saksofon yang elegan.
Melawan Arus dengan Jazz Jumat Malam
Bagi sebagian orang, musik jazz mungkin terasa asing di telinga masyarakat Ponorogo, apalagi jika disajikan di warung PKL. Namun, bagi Mohammad Muklis Himalaya, sang pemilik yang akrab disapa Mamuk, itulah kuncinya. Ia ingin tampil beda dan ogah sekadar ikut-ikutan tren.
“Menurut saya, warung itu harus punya karakter biar diingat orang. Saya nggak suka ikut-ikutan. Jazz bagi saya adalah ‘mbahnya’ musik. Musik ini sangat pas dinikmati sambil menemani pembeli makan,” ujar pria asal Kecamatan Jenangan tersebut kepada plusmedia.id.
Keunikan lain terletak pada pemilihan waktu. Jika biasanya acara musik digelar saat malam minggu, Mamuk justru memilih Jumat malam, mulai pukul 23.00 hingga 01.00 WIB. “Tampil malam minggu itu sudah biasa. Saya pilih Jumat karena ingin beda, harapannya pembeli ingat dan akhirnya merekomendasikan warung ini ke teman-temannya,” tambahnya.
PKL dengan Visi Korporat
Meski statusnya adalah pedagang kaki lima yang beroperasi setiap Senin-Sabtu pukul 23.00 hingga 04.00 WIB, Mamuk memiliki insting marketing yang tajam. Ia sadar betul pentingnya branding. Hebatnya lagi, langkah “berani” Mamuk ini berhasil menarik minat perbankan negara untuk menjadi sponsor selama dua bulan dengan nilai yang cukup lumayan.
Di balik meja pelayanan, tiga orang pekerja sibuk melayani pembeli yang makan di tempat maupun para driver ojek daring (Gojek, Grab, dan Shopee Food) yang hilir mudik mengambil pesanan. Di tengah kesibukan itu, Black Jazz terus mengalun.
Bukan Sekadar Materi
Bagi para musisi Black Jazz, manggung di warung geprek tenda adalah pengalaman yang autentik. Willy, sang pemain saksofon muda asal Jalan Pramuka, mengaku bahwa keterlibatannya di sini didasari oleh kecintaan pada musik, bukan semata mengejar materi.
“Kami sangat menyukai musik jazz. Main di sini bukan cuma soal materi, tapi karena kami memang cinta musiknya. Menyenangkan bisa membawa jazz ke ruang yang lebih merakyat,” kata Willy.
Black Jazz sendiri merupakan grup binaan Mamuk yang biasanya kerap mengisi acara-acara formal seperti pernikahan dan acara perusahaan. Dengan menghadirkan mereka ke warung gepreknya, Mamuk berhasil mengubah trotoar Jalan HOS Cokroaminoto menjadi panggung seni yang inklusif.
Melalui strategi marketing yang unik ini, Geprek Petir bukan sekadar menjual pedasnya ayam gebrek, tapi juga menjual pengalaman dan suasana. Di tangan Mamuk, PKL terbukti bisa naik kelas, membuktikan bahwa inovasi tidak harus lahir dari gedung mewah, tapi bisa muncul dari bawah tenda di pinggir jalan.
Apa yang dilakukan Geprek Petir adalah contoh nyata experiential marketing. Mamuk berhasil menciptakan “titik temu” antara kuliner pedas yang merakyat dengan musik jazz yang eksklusif, menciptakan memori kuat bagi siapa pun yang melintas di depan SMPN 1 Ponorogo di tengah malam. (*)
Pramono Anung, Gubernur DKI Kompas/Riza Fathoni (RZF)
JAKARTA – Teka-teki lokasi konser mega bintang K-Pop, BTS, di Jakarta perlahan mulai menemui titik terang. Setelah sempat memicu perdebatan di kalangan penggemar, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya memberikan lampu hijau jika Gelora Bung Karno (GBK) menjadi opsi utama ketimbang Jakarta International Stadium (JIS).
Rencana kedatangan RM dan kawan-kawan yang dijadwalkan pada 26-27 Desember mendatang memang menjadi perbincangan panas. Sebelumnya, Pramono sempat mengusulkan agar konser digelar di JIS, namun usulan tersebut mendapat reaksi keras dari para ARMY (sebutan fans BTS) yang lebih menginginkan kemegahan stadion legendaris GBK.
Intervensi “Keluarga”: Saat Anak Gubernur Turun Tangan
Menariknya, perubahan sikap sang Gubernur ternyata dipicu oleh masukan dari orang terdekatnya sendiri. Pramono mengungkapkan bahwa anaknya, yang juga merupakan seorang ARMY, sempat “memprotes” pernyataannya soal pemilihan lokasi.
“Anak saya juga ARMY, sampai saya bangun tidur diketok pintu saya, ‘Dad, ngapain ngurusin ARMY? Sudahlah biar yang ARMY bisa menikmati’. Saya bilang, oke deh mulai hari ini Bapakmu tidak statement lagi,” ujar Pramono di Kebayoran Baru, Senin (20/4/2026).
Mendengar aspirasi tersebut, Pramono akhirnya memilih untuk tidak lagi mencampuri keputusan teknis pemilihan lokasi. “Kali ini saya ngalah, kalau main di GBK juga nggak apa-apa,” tambahnya.
Keputusan Akhir Ada di Tangan Promotor
Meskipun sempat memperjuangkan JIS sebagai venue pada forum Musrenbang pekan lalu, kini Gubernur menyerahkan sepenuhnya keputusan akhir kepada pihak penyelenggara dan promotor. Baginya, yang terpenting adalah kenyamanan para penonton dan kelancaran acara yang akan menjadi salah satu event terbesar di penghujung tahun 2026.
Selain BTS, Jakarta dipastikan akan menjadi magnet konser dunia tahun ini. Nama-nama besar seperti Guns N’ Roses, Metallica, hingga The Weeknd disebut sudah mulai masuk dalam daftar rencana pertunjukan besar di ibu kota. (*)
MALANG – Kota Malang akhirnya kembali “membiru” oleh energi para Slankers. Setelah absen selama sembilan tahun tidak menyapa penggemarnya di Kota Bunga, grup band legendaris Slank resmi kembali menghentak panggung Malang dalam gelaran konser bertajuk “Hey Slank X HS”.
Ribuan penonton memadati Lapangan Rampal, Kota Malang, pada Minggu (19/4/2026) malam, menciptakan lautan manusia yang antusias menantikan aksi panggung Kaka, Bimbim, Ridho, Abdee, dan Ivanka.
Momen Reuni yang Emosional
Kembalinya Slank ke Malang bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah momen reuni yang emosional. Terakhir kali band bermarkas di Potlot ini manggung di Malang adalah hampir satu dekade silam. Tak heran, sejak sore hari, para Slankers dari berbagai daerah di Jawa Timur sudah mulai berdatangan ke area Lapangan Rampal untuk mengamankan posisi paling depan.
Energi Tanpa Batas
Dalam konser semalam, Slank tampil dengan stamina yang luar biasa, membawakan deretan lagu hits yang sudah akrab di telinga lintas generasi. Suasana semakin pecah saat lagu-lagu lagu kebangsaan Slankers dikumandangkan, membuat seluruh isi Lapangan Rampal bernyanyi bersama di bawah langit Malang.
Kehadiran Slank dalam format konser “Hey Slank X HS” ini membuktikan bahwa daya tarik band yang sudah berdiri sejak dekade 80-an ini tetap magis dan tak lekang oleh zaman, terutama di kota dengan basis massa musik yang kuat seperti Malang. (*)
Melihat harga tiket Coachella 2026 yang menembus angka belasan hingga puluhan juta rupiah mungkin bikin dompet kita mendadak “sesak napas”. Namun, buat kamu yang mengincar vibes festival musik luar ruangan dengan fashion yang ikonik dan instalasi seni yang Instagrammable, Indonesia sebenarnya punya banyak opsi yang jauh lebih ramah di kantong.
Bukan sekadar konser biasa, festival-festival ini menawarkan pengalaman sensorik yang serupa—musik lintas genre, area terbuka yang luas, hingga suasana komunitas yang kental. Berikut adalah daftarnya!
1. Jazz Gunung Bromo (Probolinggo)
Jika Coachella punya latar belakang gurun California, Indonesia punya megahnya pegunungan Bromo. Jazz Gunung Bromo menawarkan pengalaman “Jazz di Atas Awan” dengan amphitheater terbuka di Jiwa Jawa Resort.
Vibes Coachella-nya: Panggung terbuka dengan latar alam yang dramatis dan udara dingin yang bikin kamu bisa tampil dengan layering outfit yang chic.
Budget: Tiket harian (Daily Pass) dimulai dari sekitar Rp420.000, jauh lebih murah dibanding harga tiket harian Coachella yang mencapai jutaan.
2. We The Fest (Jakarta)
Banyak yang menyebut We The Fest (WTF) sebagai “Coachella-nya Indonesia”. Festival ini berhasil menggabungkan musik, seni, mode, dan makanan dalam satu kawasan terpadu.
Vibes Coachella-nya: Line-up internasional yang kekinian, instalasi seni raksasa yang estetik, dan area Beyond The Music yang memberikan pengalaman lifestyle menyeluruh.
Budget: Tiket early bird biasanya dibanderol mulai dari Rp1,5 jutaan untuk 3 hari—angka yang sangat masuk akal untuk deretan artis internasional.
3. Joyland Festival (Jakarta & Bali)
Bagi kamu yang menyukai sisi indie dan artsy dari Coachella, Joyland Festival adalah destinasi wajib. Terutama edisi Bali yang sering diadakan di green area dengan pemandangan laut atau taman yang asri.
Vibes Coachella-nya: Sangat ramah keluarga (family friendly), santai, banyak workshop kreatif, dan suasana piknik di atas rumput yang sangat “pagi-pagi di Coachella”.
Budget: Harga tiket berkisar di angka Rp500 ribu hingga Rp1 juta, tergantung kategori dan waktu pembelian.
4. Forestra (Cikole, Lembang)
Ingin merasakan sensasi konser di tengah hutan pinus dengan tata lampu yang magis? Forestra adalah jawabannya. Berbeda dengan gurun yang panas, di sini kamu akan dimanjakan dengan orkestra di tengah hutan.
Vibes Coachella-nya: Elemen seni dan alam yang menyatu sempurna. Sangat cocok untuk kamu yang suka konten visual dengan lighting panggung yang megah di malam hari.
Budget: Tiket biasanya tersedia mulai dari Rp300 ribuan, sangat terjangkau untuk pengalaman seunik ini. (*)