Connect with us

Info

Reuni F4 dan Ashin ‘Mayday’ Sukses Guncang Jakarta Lewat Konser Penuh Nostalgia

Published

on

JAKARTA – Kerinduan mendalam para penggemar serial legendaris Meteor Garden akhirnya terbayar tuntas. Rangkaian konser tiga hari bertajuk F*FOREVER ‘City of Stars’ resmi menggebrak Jakarta sejak Kamis, 28 Mei 2026.

Konser ini menjadi momen yang sangat bersejarah karena berhasil membawa kembali tiga anggota ikonis F4, yaitu Jerry Yan, Vanness Wu, dan Vic Chou ke Indonesia setelah lebih dari 20 tahun absen. Tidak sendirian, dalam tur dunia kali ini mereka juga menggandeng Ashin, vokalis dari band legendaris Taiwan, Mayday.

Lautan Nostalgia Lewat Lagu ‘Meteor Rain’

Atmosfer di dalam venue langsung pecah sejak awal pertunjukan dibuka. F4 dan Ashin langsung menggebrak panggung lewat penampilan enerjik membawakan lagu ‘Go for It’. Ribuan penggemar lintas generasi yang memadati lokasi konser langsung dibuat histeris dan ikut bernyanyi bersama.

Sepanjang malam pertama, penonton diajak menyusuri lorong waktu lewat sederet lagu hits yang sangat populer di awal era 2000-an. Tembang-tembang wajib seperti ‘Meteor Rain (Liu Xing Yu)’, ‘Jue Bu Neng Shi Qu Ni’, hingga ‘Can’t Help Falling in Love’ sukses memicu koor raksasa di seluruh penjuru arena.

Interaksi Hangat dan Candaan Di Atas Panggung

Melihat antusiasme luar biasa dari publik Indonesia, Ashin mengaku sangat tersentuh. “Saya sangat terharu,” ungkap vokalis Mayday tersebut di atas panggung.

Vic Chou kemudian membocorkan kepada penonton bahwa ini merupakan konser pertama Ashin di Indonesia, yang langsung disambut tepuk tangan gemuruh. Jerry Yan pun ikut bernostalgia dengan menyebut bahwa dirinya sudah mendengarkan lagu-lagu Mayday sejak masa-masa syuting Meteor Garden dahulu.

Suasana semakin cair dan dipenuhi gelak tawa ketika Vic Chou menimpali pernyataan Jerry dengan candaan khasnya. “Saya sudah mendengarkan lagu-lagu Mayday sejak masih di dalam kandungan ibu saya! Cepat terjemahkan itu!” seloroh Vic kepada penerjemah di panggung.

Tak hanya itu, Vic juga sempat meminta rekomendasi makanan khas Indonesia kepada para penggemar untuk menu makan malam Ashin.

Penantian 23 Tahun yang Terbayar Tuntas

Salah satu momen paling emosional terjadi saat Jerry Yan menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Ashin dan seluruh fans di Indonesia. “Tanpa Ashin, kami tidak akan berdiri di atas panggung ini hari ini,” kata Jerry sebelum menutup kalimatnya dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Indonesia.

Konser ini menjadi pengobat rindu yang sangat emosional bagi para generasi 90-an. Catatan menunjukkan bahwa terakhir kali para personel F4 menggelar konser di Jakarta adalah pada tahun 2003 silam. Setelah 23 tahun berlalu, kehadiran mereka di tahun 2026 ini bukan sekadar konser musik biasa, melainkan sebuah perjalanan kilas balik yang menghidupkan kembali memori masa muda para penggemarnya. (*)

Continue Reading

Info

Sindrom ‘Semua Harus Masuk Kamera’: Apakah Blokade Layar HP Merusak Kenyamanan Nonton Konser Zaman Sekarang?

Published

on

Ada sebuah pemandangan yang kini menjadi “menu wajib” setiap kali kita melangkah ke dalam venue konser musik atau festival. Begitu lampu panggung meredup dan intro lagu hit mulai berkumandang, ratusan hingga ribuan smartphone langsung diangkat ke udara secara serentak.

Lautan manusia yang tadinya bersiap bergoyang, mendadak berubah menjadi lautan layar menyala. Fenomena ini memicu sebuah sindrom baru di era digital: Sindrom “Semua Harus Masuk Kamera.”

Pertanyaannya, apakah obsesi untuk merekam setiap detik pertunjukan ini mulai merusak esensi dan kenyamanan menonton konser itu sendiri?

Menonton Konser Lewat Layar 6 Inci

Ironi terbesar dari konser zaman sekarang adalah ketika seseorang rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi melihat sang idola secara langsung, namun sepanjang dua jam pertunjukan, mata mereka justru terpaku pada layar ponsel berukuran 6 inci. Mereka sibuk memastikan fokus kamera tetap tajam, mengatur pencahayaan, hingga memantau apakah story Instagram mereka sudah berhasil terunggah.

Tanpa disadari, perilaku ini menciptakan blokade visual bagi penonton di barisan belakang. Bagi penonton yang bertubuh kurang tinggi, perjuangan melihat panggung kini bukan lagi sekadar bersaing dengan kepala orang di depan, melainkan harus menembus celah-celah acungan ponsel yang menghalangi pandangan.

Konser yang seharusnya menjadi ruang komunal untuk melepaskan emosi, menari, dan bernyanyi bersama, perlahan bergeser menjadi ruang dokumentasi massal yang kaku.

Ancaman Hilangnya Koor Raksasa yang Organik

Satu hal yang membuat konser musik begitu magis adalah energi kolektif yang tercipta secara organik. Koor raksasa yang menggema, tepuk tangan yang kompak, hingga interaksi spontan antara musisi dan audiens adalah nyawa dari sebuah pertunjukan langsung.

Namun, ketika sebagian besar tangan penonton sibuk menggenggam ponsel, atmosfer tersebut perlahan memudar. Tepuk tangan berkurang karena satu tangan sibuk memegang device, dan suara sing-along terkadang tertahan karena takut merusak kualitas audio rekaman video sendiri. Alih-alih meresapi ambiens dan getaran audio bass yang menghentak dada, fokus audiens terpecah demi menghasilkan konten yang estetik.

Gerakan ‘No Phone Policy’ dan Kerinduan Masa Lalu

Kondisi ini memicu reaksi dari beberapa musisi dunia maupun promotor yang mulai menerapkan aturan ketat terkait penggunaan ponsel. Beberapa konser internasional kini mewajibkan penonton memasukkan ponsel mereka ke dalam kantong khusus yang terkunci (Yondr pouch) selama acara berlangsung.

Tujuannya jelas: mengembalikan penonton ke realitas saat ini (present moment). Memaksa audiens untuk benar-benar hadir secara utuh, menikmati musik dengan telinga dan mata telanjang, serta menghargai setiap momen intim yang terjadi di atas panggung tanpa intervensi digital.

Memang, mendokumentasikan momen spesial sebagai kenang-kenangan atau ajang berbagi kebahagiaan di media sosial adalah hal yang sah-sah saja. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tentu akan mengorbankan kenyamanan bersama. (*)

Continue Reading

Info

Libur Iduladha di Surabaya Dimeriahkan Festival Tepi Pantai THP Kenjeran

Published

on

SURABAYA – Memanfaatkan momen libur dan cuti bersama Iduladha, Festival Tepi Pantai resmi dibuka di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya. Menurut laporan dari Harian Disway, masyarakat langsung berbondong-bondong memadati salah satu destinasi wisata pesisir favorit warga Kota Pahlawan tersebut sejak hari pertama pembukaan.

Festival Tepi Pantai ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan, festival ini menyajikan berbagai keseruan mulai dari bazar, kompetisi olahraga, games interaktif, hingga atraksi hiburan menarik yang dijadwalkan berlangsung sampai 31 Mei.

Keseruan Games Tebak Lagu Lawas dan Mukbang Challenge

Salah satu momen paling meriah terjadi saat panitia mengajak pengunjung bermain game tebak judul lagu lawas lewat kode gambar di layar panggung. Suasana sempat riuh ketika peserta bernama Hasbi Ahmad Satria kesulitan menebak clue gambar orang menyilangkan tangan dan kakek di bangku taman. setelah sempat salah menebak “Tidak mau merenung”, Hasbi akhirnya sukses menebak lagu hits Bunga Citra Lestari bertajuk Aku Tak Mau Sendiri setelah dipandu kode oleh panitia.

“Padahal, tadi cuma kebetulan lewat dekat panggung. Lalu, diminta ikut main game dan menang. Tidak menyangka,” ujar pemuda kelahiran 2007 itu dengan riang kepada Harian Disway, setelah berhasil membawa pulang goodie bag hadiah.

Tak kalah heboh, festival ini juga menggelar mukbang challenge mi pedas Korea yang diikuti oleh 10 peserta. Aturannya cukup menantang: mereka wajib menghabiskan semangkuk mi super pedas dalam waktu dua menit tanpa boleh minum air sama sekali. Tiga peserta paling cepat sukses keluar sebagai pemenang, sementara sisanya harus puas membawa pulang sensasi rasa pedas di lidah.

“Ini pertama kalinya ikut mukbang challenge makan mi pedas. Saya berharap, kalau ada acara seperti ini lagi di lain waktu, semoga bisa menang,” ungkap Muhammad Zahir (24), salah satu peserta asal Surabaya.

Wadah Aktivitas Outdoor dan Piala Wali Kota

Bagi pengunjung yang menyukai tantangan fisik, Festival Tepi Pantai juga menyediakan berbagai aktivitas luar ruangan yang membutuhkan keahlian khusus, seperti berkuda hingga olahraga panjat dinding (wall climbing).

Berbarengan dengan agenda ini, Pemerintah Kota Surabaya turut menyemarakkan HJKS ke-733 dengan menggelar kompetisi olahraga bertajuk Piala Wali Kota (Pilwali) Surabaya khusus untuk kalangan pelajar. Ragam cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi bola basket, pushbike, cheerleaders, hingga handball beach atau bola tangan pantai.

Hadirnya festival ini menjadi alternatif hiburan akhir pekan yang positif dan edukatif bagi generasi muda Surabaya untuk menyalurkan bakat serta minat mereka, mulai dari bidang olahraga, ketangkasan, hingga seni dan budaya lokal. (*)

Continue Reading

Info

Sama-Sama Angkat Isu Korupsi Proyek, Lagu ‘Menteri Durmagati’ Milik Kajawi Sukses Hidupkan Film ‘Pakaryan’

Published

on

SURABAYA – Kolaborasi apik antara dunia musik hip-hop lokal dan dunia sinema independen tersaji dalam acara Screening Film Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Kamis (21/5/2026) lalu. Lagu milik grup rap asal Ponorogo, Kajawi, yang berjudul “Menteri Durmagati”, resmi didapuk menjadi soundtrack utama untuk film pendek bertajuk Pakaryan.

Kolaborasi ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Kajawi, karena ini merupakan pengalaman pertama kali karya musik mereka diadopsi menjadi sebuah soundtrack film layar lebar.

Berawal dari Viral Berujung Kesamaan Visi Kritik Sosial

Ketertarikan tim produksi film Pakaryan bermula saat lagu “Menteri Durmagati” berseliweran dan viral di berbagai platform media sosial. Namun, pemilihan lagu ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Produser Pakaryan, Safir, mengungkapkan bahwa Kajawi dipilih karena memiliki identitas budaya yang kuat lewat lirik bahasa Jawa serta konsistensi mereka dalam menyuarakan kritik sosial.

Menariknya, ada kecocokan yang sangat intim antara lirik lagu dan alur cerita film. Baik lagu “Menteri Durmagati” maupun film Pakaryan sama-sama menyoroti keresahan sosial yang nyata di tengah warga, khususnya mengenai praktik penyelewengan dan korupsi proyek di lingkungan masyarakat.

“Dari beberapa kesamaan inilah kami ingin membawa budaya lokal ke audiens yang lebih luas. Penggunaan lagu dari Kajawi ini memberikan kekuatan atmosfer tambahan untuk film kami,” ujar Safir.

Kolaborasi Hangat Berbasis Keterbukaan

Proses kerja sama lintas disiplin seni ini terjalin cukup unik. Tim mahasiswa awalnya mencoba menjalin komunikasi dengan menyapa Kajawi melalui pesan langsung (DM) di Instagram. Sejak awal, Safir mengaku berterus terang mengenai latar belakang produksi mereka yang merupakan proyek akademik mahasiswa, bukan industri komersial besar.

Keterbukaan tersebut justru disambut hangat oleh Kajawi. Grup rap asal Ponorogo ini mengaku sangat membuka pintu untuk berbagai bentuk kolaborasi kreatif, terutama jika berkaitan dengan gerakan anak muda.

“Kami sangat terbuka untuk berbagai kolaborasi karena sama-sama ingin membangun lewat karya yang kami miliki,” ungkap Muheim, salah satu personel Kajawi.

Sinergi Anak Muda Lestarikan Budaya Jawa

Bagi kedua belah pihak, sinergi ini bukan lagi sekadar urusan tempel-menempel musik ke dalam visual. Kolaborasi ini menjadi pembuktian bahwa komunitas kreatif independen di Jawa Timur bisa saling sokong untuk mengemas kebudayaan Jawa agar naik kelas dan relevan dengan zaman.

Beberapa dialog di dalam film bahkan terasa sangat menyatu dengan ketukan ritme lirik yang dibawakan Kajawi, membuat pesan sindiran di dalam film terasa lebih menyengat.

“Kalau tidak ada sinergi, harus dengan siapa lagi kita membangun budaya kita sendiri,” pungkas manajemen Kajawi, menegaskan pentingnya kolaborasi antar-kreator lokal. (*)

Continue Reading

Trending