Connect with us

Info

Kisah Bu Dar Mortir: Teatrikal Dapur Rakyat yang Pukau Pengunjung Tugu Pahlawan

Published

on

SURABAYA – Kisah perjuangan tak selalu hadir dari dentuman senjata di garis depan. Ada peran-peran sunyi yang turut menguatkan perlawanan. Semangat itulah yang dihadirkan dalam teatrikal “Bu Dar Mortir: Suara Dapur di Balik Pertempuran Surabaya” yang sukses digelar di halaman Museum Tugu Pahlawan pada Minggu (15/2/2026) pagi.

Pertunjukan yang dimulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB ini berlangsung meriah dan dipadati masyarakat yang mengisi akhir pekan mereka dengan menyaksikan kisah heroik di tengah suasana museum yang sarat sejarah. Dengan harga tiket masuk hanya Rp 5.000, pengunjung sudah dapat menikmati sajian teatrikal yang edukatif sekaligus menghibur.

Iwan Ozon selaku Humas Musea Surabaya menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan bagian dari komitmen museum sebagai ruang edukasi sejarah yang tematik, khususnya terkait Pertempuran 10 November di Surabaya.

“Karena museum ini memang museum tematik tentang Pertempuran 10 November, kami merasa punya kewajiban untuk memperkenalkan ke masyarakat bagaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi. Sebegitu hebatnya pertempuran tersebut sampai memancing perhatian dunia, tentu ada sebab-sebabnya. Itu yang coba kami ceritakan kembali kepada masyarakat Surabaya,” ujarnya di Surabaya (15/2/2026).

Teatrikal ini rutin digelar setiap bulan sebagai upaya mengangkat sisi-sisi lain dari sejarah yang jarang diketahui publik. Pertunjukan ini menjadi sebagai “crowning” atau penguatan narasi tentang Pertempuran 10 November.

“Biasanya orang tahu Pertempuran 10 November itu sekadar tokoh yang gugur lalu tokoh Inggris marah, begitu saja. Padahal ada kisah-kisah kecil yang tersebar dan juga penting untuk diangkat. Termasuk kisah Bu Dar Mortir ini,” tambah Iwan.

Dalam pementasan tersebut, sosok Bu Dar Mortir digambarkan sebagai perempuan yang tidak mengangkat senjata maupun berorasi lantang, namun memiliki peran vital melalui dapur umum untuk para pejuang.

Peran dapur umum tersebut digambarkan melalui analogi sederhana bahwa sebagaimana anak-anak berangkat sekolah tanpa sarapan saja sudah terasa berat, demikian pula para pejuang yang membawa senjata tidak cukup hanya bermodalkan semangat karena mereka juga membutuhkan asupan makanan. Peran inilah yang diambil Bu Dar Mortir dalam mendukung perjuangan.

Penggambaran peran tersebut kemudian ditampilkan dalam pertunjukan teatrikal yang berhasil menarik perhatian masyarakat. Meskipun promosi pertunjukan teatrikal ini hanya dilakukan melalui akun Instagram resmi @musea.surabaya, antusiasme warga yang memadati halaman Museum Tugu Pahlawan menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk memahami sejarah. Selain itu, lokasi museum yang berada di kawasan strategis dan ramai saat akhir pekan turut mendukung meningkatnya jumlah pengunjung.

Antusiasme masyarakat tersebut tidak lepas dari penampilan Komunitas Roode Brug Soerabaia (RB) yang menyuguhkan pertunjukan teatrikal memukau hingga membuat penonton takjub. Salah satu penonton, Alberzio Raihan yang masih berusia 9 tahun, mengaku sangat menikmati pertunjukan tersebut. Siswa kelas dua sekolah dasar itu datang karena penasaran dengan kisah yang diangkat.

“Nontonnya senang, rasanya seperti melihat pertempuran beneran. Kapan-kapan pengin nonton lagi,” katanya dengan mata berbinar, meski ia juga mengaku sempat merasa sedikit takut karena efek suara tembakan yang terdengar nyata.

“Saya masih sedikit takut sebetulnya, soalnya suara tembakannya asli, jadi kayak beneran perang,” ujarnya polos.

Dengan balutan kostum dan properti bernuansa tempo dulu serta efek suara yang realistis, pertunjukan ini berhasil menghadirkan suasana dramatis yang membawa penonton seolah kembali ke masa pertempuran. Melalui teatrikal “Bu Dar Mortir”, Museum Tugu Pahlawan tidak hanya menyuguhkan tontonan yang ramah bagi berbagai usia, tetapi juga menghadirkan ruang pembelajaran sejarah yang hidup dan membekas di ingatan. (*)

Continue Reading

Info

Gubernur Pramono Anung “Ngalah” ke ARMY: Konser BTS di Jakarta Berpeluang Besar Digelar di GBK

Published

on

Pramono Anung, Gubernur DKI Kompas/Riza Fathoni (RZF)

JAKARTA – Teka-teki lokasi konser mega bintang K-Pop, BTS, di Jakarta perlahan mulai menemui titik terang. Setelah sempat memicu perdebatan di kalangan penggemar, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya memberikan lampu hijau jika Gelora Bung Karno (GBK) menjadi opsi utama ketimbang Jakarta International Stadium (JIS).

Rencana kedatangan RM dan kawan-kawan yang dijadwalkan pada 26-27 Desember mendatang memang menjadi perbincangan panas. Sebelumnya, Pramono sempat mengusulkan agar konser digelar di JIS, namun usulan tersebut mendapat reaksi keras dari para ARMY (sebutan fans BTS) yang lebih menginginkan kemegahan stadion legendaris GBK.

Intervensi “Keluarga”: Saat Anak Gubernur Turun Tangan

Menariknya, perubahan sikap sang Gubernur ternyata dipicu oleh masukan dari orang terdekatnya sendiri. Pramono mengungkapkan bahwa anaknya, yang juga merupakan seorang ARMY, sempat “memprotes” pernyataannya soal pemilihan lokasi.

“Anak saya juga ARMY, sampai saya bangun tidur diketok pintu saya, ‘Dad, ngapain ngurusin ARMY? Sudahlah biar yang ARMY bisa menikmati’. Saya bilang, oke deh mulai hari ini Bapakmu tidak statement lagi,” ujar Pramono di Kebayoran Baru, Senin (20/4/2026).

Mendengar aspirasi tersebut, Pramono akhirnya memilih untuk tidak lagi mencampuri keputusan teknis pemilihan lokasi. “Kali ini saya ngalah, kalau main di GBK juga nggak apa-apa,” tambahnya.

Keputusan Akhir Ada di Tangan Promotor

Meskipun sempat memperjuangkan JIS sebagai venue pada forum Musrenbang pekan lalu, kini Gubernur menyerahkan sepenuhnya keputusan akhir kepada pihak penyelenggara dan promotor. Baginya, yang terpenting adalah kenyamanan para penonton dan kelancaran acara yang akan menjadi salah satu event terbesar di penghujung tahun 2026.

Selain BTS, Jakarta dipastikan akan menjadi magnet konser dunia tahun ini. Nama-nama besar seperti Guns N’ Roses, Metallica, hingga The Weeknd disebut sudah mulai masuk dalam daftar rencana pertunjukan besar di ibu kota. (*)

Continue Reading

Info

Penantian 9 Tahun Tuntas! Slank Sukses Obati Rindu Slankers Malang di Lapangan Rampal

Published

on

MALANG – Kota Malang akhirnya kembali “membiru” oleh energi para Slankers. Setelah absen selama sembilan tahun tidak menyapa penggemarnya di Kota Bunga, grup band legendaris Slank resmi kembali menghentak panggung Malang dalam gelaran konser bertajuk “Hey Slank X HS”.

Ribuan penonton memadati Lapangan Rampal, Kota Malang, pada Minggu (19/4/2026) malam, menciptakan lautan manusia yang antusias menantikan aksi panggung Kaka, Bimbim, Ridho, Abdee, dan Ivanka.

Momen Reuni yang Emosional

Kembalinya Slank ke Malang bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah momen reuni yang emosional. Terakhir kali band bermarkas di Potlot ini manggung di Malang adalah hampir satu dekade silam. Tak heran, sejak sore hari, para Slankers dari berbagai daerah di Jawa Timur sudah mulai berdatangan ke area Lapangan Rampal untuk mengamankan posisi paling depan.

Energi Tanpa Batas

Dalam konser semalam, Slank tampil dengan stamina yang luar biasa, membawakan deretan lagu hits yang sudah akrab di telinga lintas generasi. Suasana semakin pecah saat lagu-lagu lagu kebangsaan Slankers dikumandangkan, membuat seluruh isi Lapangan Rampal bernyanyi bersama di bawah langit Malang.

Kehadiran Slank dalam format konser “Hey Slank X HS” ini membuktikan bahwa daya tarik band yang sudah berdiri sejak dekade 80-an ini tetap magis dan tak lekang oleh zaman, terutama di kota dengan basis massa musik yang kuat seperti Malang. (*)

Continue Reading

Info

Mau Vibes Coachella tapi Budget Mahasiswa? Ini Daftar Festival Musik Lokal yang Gak Kalah Estetik

Published

on

We The Fest

Melihat harga tiket Coachella 2026 yang menembus angka belasan hingga puluhan juta rupiah mungkin bikin dompet kita mendadak “sesak napas”. Namun, buat kamu yang mengincar vibes festival musik luar ruangan dengan fashion yang ikonik dan instalasi seni yang Instagrammable, Indonesia sebenarnya punya banyak opsi yang jauh lebih ramah di kantong.

Bukan sekadar konser biasa, festival-festival ini menawarkan pengalaman sensorik yang serupa—musik lintas genre, area terbuka yang luas, hingga suasana komunitas yang kental. Berikut adalah daftarnya!

1. Jazz Gunung Bromo (Probolinggo)

Jika Coachella punya latar belakang gurun California, Indonesia punya megahnya pegunungan Bromo. Jazz Gunung Bromo menawarkan pengalaman “Jazz di Atas Awan” dengan amphitheater terbuka di Jiwa Jawa Resort.

  • Vibes Coachella-nya: Panggung terbuka dengan latar alam yang dramatis dan udara dingin yang bikin kamu bisa tampil dengan layering outfit yang chic.
  • Budget: Tiket harian (Daily Pass) dimulai dari sekitar Rp420.000, jauh lebih murah dibanding harga tiket harian Coachella yang mencapai jutaan.

2. We The Fest (Jakarta)

Banyak yang menyebut We The Fest (WTF) sebagai “Coachella-nya Indonesia”. Festival ini berhasil menggabungkan musik, seni, mode, dan makanan dalam satu kawasan terpadu.

  • Vibes Coachella-nya: Line-up internasional yang kekinian, instalasi seni raksasa yang estetik, dan area Beyond The Music yang memberikan pengalaman lifestyle menyeluruh.
  • Budget: Tiket early bird biasanya dibanderol mulai dari Rp1,5 jutaan untuk 3 hari—angka yang sangat masuk akal untuk deretan artis internasional.

3. Joyland Festival (Jakarta & Bali)

Bagi kamu yang menyukai sisi indie dan artsy dari Coachella, Joyland Festival adalah destinasi wajib. Terutama edisi Bali yang sering diadakan di green area dengan pemandangan laut atau taman yang asri.

  • Vibes Coachella-nya: Sangat ramah keluarga (family friendly), santai, banyak workshop kreatif, dan suasana piknik di atas rumput yang sangat “pagi-pagi di Coachella”.
  • Budget: Harga tiket berkisar di angka Rp500 ribu hingga Rp1 juta, tergantung kategori dan waktu pembelian.

4. Forestra (Cikole, Lembang)

Ingin merasakan sensasi konser di tengah hutan pinus dengan tata lampu yang magis? Forestra adalah jawabannya. Berbeda dengan gurun yang panas, di sini kamu akan dimanjakan dengan orkestra di tengah hutan.

  • Vibes Coachella-nya: Elemen seni dan alam yang menyatu sempurna. Sangat cocok untuk kamu yang suka konten visual dengan lighting panggung yang megah di malam hari.
  • Budget: Tiket biasanya tersedia mulai dari Rp300 ribuan, sangat terjangkau untuk pengalaman seunik ini. (*)

Continue Reading

Trending