SURABAYA — Pusat Informasi dan Kegiatan Persatuan Orang Tua Penyandang Down Syndrome Jawa Timur (PIK POTADS Jatim) menyelenggarakan peringatan Hari Down Syndrome Dunia (HDSD) 2026. Acara ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong penyandang Down Syndrome agar tampil lebih percaya diri di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (2/4/2026) di Gedung BK3S Surabaya, Jawa Timur, ini mengangkat tema “Peran Keluarga dan Tenaga Kesehatan dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak dengan Down Syndrome.” Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memperkuat dukungan agar penyandang Down Syndrome dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa anak dengan Down Syndrome memiliki potensi berkembang apabila didukung oleh keluarga, tenaga kesehatan, serta lingkungan sosial yang inklusif. Kendati demikian, stigma, perundungan, serta kesalahpahaman terhadap mereka masih kerap terjadi.
Sejalan dengan tema global Hari Down Syndrome Dunia 2026, “Together Against Loneliness,” kegiatan ini menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghapus kesepian sosial yang sering dialami oleh penyandang Down Syndrome beserta keluarganya.
Melalui sesi edukasi dalam format bincang santai, para narasumber menegaskan bahwa keluarga memegang peran sentral sebagai mitra utama dalam proses tumbuh kembang anak. Dr. dr. Muhammad Farid Dimjati Lusno, M.KL., dalam paparannya menyoroti pentingnya peran orang tua sebagai pendukung utama perkembangan anak.
Sementara itu, Dr. Dra. Pinky Saptandari, M.A., menekankan perlunya transformasi cara pandang masyarakat—dari rasa minder menjadi rasa bangga—guna membangun lingkungan yang inklusif. Diskusi yang dipandu oleh psikolog Linda Hartati, S.Psi., tersebut menegaskan bahwa dukungan keluarga akan semakin kuat jika diiringi peran tenaga kesehatan serta lingkungan sosial yang terbuka.
Dalam kesempatan yang sama, Suwahyu selaku Pengurus PIK POTADS Jatim Bidang Kemitraan dan Pengembangan Organisasi, menegaskan pentingnya membangun ruang bersama bagi keluarga penyandang Down Syndrome.
“Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menguatkan keluarga sekaligus mendorong perubahan cara pandang masyarakat. Penyandang Down Syndrome bukan untuk dikasihani, melainkan untuk diberdayakan dan diberikan kesempatan yang setara,” ujar Suwahyu.
Selain sesi sosialisasi dan edukasi, kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi pengalaman bagi keluarga melalui tema “Aku Ada, Aku Bisa.” Ruang tersebut diharapkan dapat memberikan inspirasi sekaligus penguatan bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Acara turut dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni, mulai dari musik, tari, hingga fashion show yang menampilkan para penyandang Down Syndrome. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa mereka mampu berekspresi, berkarya, dan menunjukkan kemampuan di ruang publik.
Sekitar 125 penyandang Down Syndrome bersama keluarganya turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Selain itu, acara juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum yang peduli terhadap isu inklusi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap penyandang Down Syndrome semakin meningkat. Tujuannya agar tercipta lingkungan sosial yang lebih ramah, inklusif, serta bebas dari stigma, sehingga penyandang Down Syndrome dapat tumbuh dengan percaya diri dan memperoleh kesempatan yang setara. (*)