Connect with us

Inovasi

Guru di NTT Kembangkan Aplikasi Belajar Offline untuk Siswa di Daerah 3T

Avatar photo

Published

on

Nias Barat, NTT – Terbatasnya akses internet di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) menjadi tantangan besar dalam proses belajar mengajar. Namun seorang guru di Kabupaten Nias Barat, NTT, membuktikan bahwa dengan kreativitas dan kemauan, teknologi bisa menjembatani kesenjangan tersebut.

Adalah Aprilinus Halawa, guru di SDN 071073 Wango, yang memanfaatkan aplikasi edukasi KIPIN School sebagai solusi pembelajaran digital di daerah terpencil. KIPIN School merupakan aplikasi yang memungkinkan siswa belajar secara offline setelah mengunduh konten satu kali.

“Dari beberapa aplikasi yang pernah saya coba, hanya KIPIN yang menurut saya efisien dan efektif untuk pembelajaran digital,” ujar Aprilinus Halawa, dikutip dari Pendidikan.id.

“Pengoperasiannya tidak rumit, sumber materi lengkap, sekaligus menjadi sarana asesmen digital yang sudah support AKM (Asesmen Kompetensi Minimum),” tambahnya.

KIPIN School (Kios Pintar) menyediakan lebih dari 2.500 buku pelajaran sekolah, 2.000 video pembelajaran, latihan soal, dan komik literasi. Konten ini dapat diunduh saat ada koneksi, dan digunakan tanpa internet selamanya. Fitur ini menjadikannya sangat relevan untuk siswa di daerah minim sinyal.

Aprilinus juga memanfaatkan fitur ujian digital dalam aplikasi tersebut. Siswa cukup mengerjakan soal melalui perangkat, dan hasil ujian muncul secara otomatis setelah disubmit.

“Sangat membantu, karena penilaian bisa langsung keluar tanpa koreksi manual,” jelas Aprilinus.

Penggunaan aplikasi ini juga selaras dengan semangat Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Kemendikbudristek, di mana guru diberi ruang untuk melakukan inovasi sesuai konteks lokal.

Di tempat lain, sejumlah guru di daerah 3T juga mulai mengadopsi aplikasi serupa, bahkan didukung oleh platform inisiatif “Awan Penggerak” dari Ditjen GTK, Kemendikbudristek.

“Awan Penggerak kami hadirkan agar guru dan siswa di daerah 3T tetap bisa mengakses pembelajaran daring maupun offline,” ujar Dirjen GTK Nunuk Suryani, dikutip dari Antara News.

Kisah Aprilinus menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan infrastruktur tidak selalu menjadi halangan untuk pendidikan yang berkualitas—selama ada kemauan untuk berinovasi. (*)

Continue Reading

Inovasi

Solusi Anti Bingung di Pameran: Kenalan dengan Teknologi AI Concierge

Published

on

Pernahkah Anda merasa bingung saat datang ke sebuah pameran besar dengan ratusan tenant? Atau merasa membuang waktu di sesi seminar yang ternyata tidak relevan? Masalah klasik dunia event ini segera berakhir berkat hadirnya AI Concierge.

Inovasi ini membawa personalisasi ke level yang jauh lebih dalam. Bukan lagi sekadar aplikasi jadwal digital, AI kini bertindak sebagai asisten pribadi yang memahami minat, kebutuhan, hingga target networking setiap pengunjung secara unik.

AI Concierge bekerja dengan mempelajari profil peserta sejak tahap registrasi. Dengan izin pengguna, AI dapat menganalisis minat atau riwayat profesional untuk menyusun agenda “pribadi”.

Misalnya, pada ajang BCA Singapore Airlines Travel Fair, seorang pengunjung tidak perlu lagi memilah ratusan brosur. AI akan langsung memberikan rekomendasi rute perjalanan, pilihan hotel, hingga estimasi anggaran yang dipersonalisasi hanya dengan memindai profil minat atau destinasi impian yang pernah mereka bagikan di media sosial.

AI Bukan Lagi Sekadar Chatbot

Transisi dari aplikasi statis ke asisten proaktif ini diakui oleh para ahli teknologi event dunia. Julius Solaris, analis teknologi event terkemuka sekaligus pendiri Boldpush, menegaskan bahwa peran AI telah bergeser dari sekadar alat pencarian menjadi agen yang cerdas.

“AI di dalam sebuah event kini bertransformasi dari fungsi ‘pencarian’ menjadi fungsi ‘concierge’. Ia tidak lagi menunggu Anda bertanya, tetapi ia memprediksi apa yang Anda butuhkan dan memberikan rekomendasi yang paling relevan untuk meningkatkan nilai waktu Anda di acara tersebut.”

Senada dengan hal tersebut, laporan dari Gartner mengenai tren teknologi strategis menyebutkan bahwa hyper-personalization adalah kunci untuk menjaga keterikatan konsumen di masa depan.

Networking yang Lebih Akurat

Salah satu fitur paling revolusioner dari AI Concierge adalah kemampuannya dalam Smart Networking. AI dapat mencarikan rekan bisnis atau sesama hobi yang memiliki kecocokan profil hingga 90%, lalu menjadwalkan pertemuan singkat di area lounge.

“AI membantu menghilangkan kecanggungan saat bertemu orang baru di sebuah acara besar. Ia memberikan alasan yang kuat mengapa dua orang harus berbicara satu sama lain,” tulis riset dari EventMB.

Dengan AI Concierge, setiap orang akan merasakan pengalaman event yang berbeda-beda meski berada di satu lokasi yang sama. Inovasi ini memastikan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia dan setiap detik yang dihabiskan pengunjung memberikan nilai maksimal. (*)

Continue Reading

Inovasi

Menembus Batas Ruang: Era ‘Phygital Synchronicity’ Ubah Wajah Event Masa Depan

Published

on

Selama beberapa dekade, industri event terbagi menjadi dua kubu besar: fisik (offline) dan digital (online). Namun, memasuki tahun 2026, batasan tersebut resmi runtuh dengan munculnya tren Phygital Synchronicity. Teknologi ini memungkinkan sinkronisasi sempurna antara kehadiran fisik dan interaksi digital secara real-time, menciptakan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya.

Jika dulu “hybrid event” hanya berarti menyediakan live streaming bagi penonton di rumah, Phygital Synchronicity membawa interaksi dua arah yang setara. Penonton di lokasi fisik dan penonton virtual dapat saling melihat, berinteraksi, bahkan berbagi “panggung” yang sama melalui teknologi spatial computing dan hologram.

Bukan Sekadar Layar, Tapi Kehadiran Nyata

Kunci dari inovasi ini adalah kemampuan teknologi untuk menghilangkan jeda (latency). Dengan dukungan infrastruktur 5G dan 6G yang semakin matang, data visual dalam jumlah besar dapat dikirimkan secara instan.

Cathy Hackl, seorang pakar teknologi masa depan yang dikenal sebagai “Godmother of the Metaverse” dan CEO dari Spatial Dynamics, telah lama memprediksi pergeseran ini. Dalam sebuah diskusi mengenai masa depan teknologi imersif, ia menyatakan:

“Dunia fisik sedang menjadi sesuatu yang bisa diklik secara digital (digitally clickable). Kita tidak lagi hanya beralih antara dunia fisik dan digital, melainkan hidup dalam sinkronisasi keduanya. Ini bukan tentang melarikan diri dari realitas, melainkan meningkatkan realitas kita melalui lapisan digital.”

Spatial Computing sebagai Katalisator

Inovasi ini semakin dipercepat oleh adopsi perangkat spatial computing. Penyelenggara event kini tidak lagi terbatas pada luasnya gedung, karena mereka bisa menambahkan elemen digital yang terasa nyata bagi pengunjung yang menggunakan kacamata AR (Augmented Reality).

CEO Apple, Tim Cook, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa teknologi AR akan mengubah cara manusia berkumpul. Ia menyebutkan:

“AR adalah teknologi yang mendalam (profound technology) yang akan mempengaruhi segalanya. Bayangkan bisa berkolaborasi dan melihat hal-hal yang sama secara digital di ruang fisik yang sama. Ini akan memperkuat hubungan manusia, bukan menggantikannya.”

Implementasi Nyata: Dari Konser hingga Konferensi

Contoh nyata dari tren ini adalah gelaran Ultraverse Festival yang baru-baru ini menyita perhatian. Dengan menghubungkan tiga kota (Jakarta, Surabaya, Bali) melalui portal visual, penonton di Surabaya bisa melihat dan berinteraksi dengan penonton di Bali seolah-olah mereka dipisahkan oleh kaca transparan, bukan oleh jarak ratusan kilometer.

Bagi penyelenggara, Phygital Synchronicity menawarkan solusi atas keterbatasan kapasitas venue. Sebuah konferensi di Surabaya yang hanya berkapasitas 1.000 orang secara fisik, kini bisa diikuti oleh 10.000 orang lainnya secara “phygital” dengan kualitas interaksi yang hampir identik.

Masa Depan yang Inklusif dan Tanpa Batas

Tren ini juga membawa angin segar bagi inklusivitas. Mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau kendala biaya untuk bepergian kini tetap bisa merasakan energi sebuah acara secara nyata dari lokasi masing-masing.

Industri event bukan lagi soal di mana Anda berada, melainkan bagaimana Anda terhubung. Phygital Synchronicity membuktikan bahwa teknologi, jika digunakan dengan tepat, justru akan membuat pengalaman kemanusiaan kita terasa lebih kaya dan tak terbatas. (*)

Continue Reading

Inovasi

Invisible Tech: Bagaimana Logistik Otomatis Menjadi “Pahlawan Tanpa Wajah” di Balik Suksesnya Event Masa Depan

Published

on

Foto: smart-storage.eu

Dalam sebuah acara besar, keberhasilan sering kali diukur dari apa yang terlihat di atas panggung: tata lampu yang megah, suara yang menggelegar, atau konten yang memukau. Namun, di balik tirai estetika tersebut, sebuah revolusi sedang terjadi. Teknologi logistik otomatis—atau yang sering disebut sebagai Invisible Tech—kini menjadi tulang punggung yang memastikan operasional berjalan tanpa hambatan, aman, dan efisien.

Bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, penggunaan robot otonom, drone, dan sensor IoT (Internet of Things) mulai menjadi standar baru dalam manajemen acara berskala besar.

1. Drone: Mata Pintar untuk Keamanan dan Manajemen Kerumunan

Jika dulu drone hanya digunakan untuk dokumentasi video udara, kini fungsinya telah bergeser ke arah keamanan tingkat tinggi. Menurut laporan dari Goldman Sachs, pasar drone untuk penggunaan komersial dan sipil terus meningkat karena kemampuannya dalam melakukan pemantauan real-time yang jauh lebih efektif dibandingkan CCTV statis.

Di acara-acara besar seperti festival musik atau pameran internasional, drone yang dilengkapi dengan AI dapat mendeteksi titik kepadatan kerumunan sebelum terjadi desak-desakan (crowd crush). Teknologi ini memungkinkan tim keamanan untuk bertindak preventif, mengarahkan arus massa secara lebih halus tanpa mengganggu kenyamanan peserta.

2. Autonomous Mobile Robots (AMR): Pengantar Logistik Tanpa Lelah

Logistik internal dalam sebuah venue sering kali menjadi titik paling melelahkan dan rentan kesalahan manusia. Di sinilah peran Autonomous Mobile Robots (AMR) masuk. Berbeda dengan robot pabrik yang kaku, AMR menggunakan sensor LiDAR untuk bernavigasi di antara kerumunan manusia tanpa menabrak.

Berdasarkan studi dari McKinsey & Company mengenai masa depan logistik, otomatisasi dalam pengiriman barang “last-mile” dapat mengurangi biaya operasional hingga 40%. Di dunia event, robot seperti ini mulai digunakan untuk mengantar makanan ke meja VIP, membawa peralatan teknis dari gudang ke panggung, hingga menjadi tempat sampah berjalan yang menjaga kebersihan venue secara otomatis.

3. Sensor IoT: Mengelola Lingkungan yang Tidak Terlihat

Inovasi paling “tak terlihat” namun krusial adalah integrasi sensor IoT. Sensor-sensor ini bekerja di latar belakang untuk memantau segala sesuatu mulai dari kualitas udara (CO2), suhu ruangan, hingga tingkat hunian toilet secara real-time.

Mengutip data dari Gartner, penggunaan IoT dalam manajemen gedung (Smart Building) membantu penyelenggara mengoptimalkan penggunaan energi. Misalnya, AC hanya akan bekerja maksimal di area yang padat orang, dan tim kebersihan hanya akan dikirim ke area yang sensornya menunjukkan penggunaan tinggi. Hasilnya? Operasional yang jauh lebih ramah lingkungan dan efisien secara biaya.

Efisiensi yang Meningkatkan Pengalaman Manusia

Tujuan akhir dari semua teknologi otomatis ini bukanlah untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya, melainkan untuk membebaskan staf dari tugas-tugas repetitif dan berat. Dengan logistik yang berjalan otomatis secara “tak terlihat”, penyelenggara dapat lebih fokus pada interaksi interpersonal dan kualitas konten yang disajikan.

“Teknologi terbaik adalah teknologi yang tidak terasa keberadaannya karena ia bekerja begitu mulus di latar belakang,” ungkap para pakar inovasi. Di masa depan, sukses tidaknya sebuah event mungkin tidak lagi ditentukan oleh seberapa keras kita bekerja di lapangan, tetapi seberapa cerdas kita mengintegrasikan Invisible Tech dalam operasional harian. (*)

Continue Reading

Trending