SURABAYA – Kerinduan penggemar Westlife di Jawa Timur terobati lewat tajuk tur “Westlife: A Gala Evening” yang digelar di Graha Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Minggu (8/2/2026) malam. Meski menyuguhkan kolaborasi musikal yang elegan, konser ini menyisakan gelombang kekecewaan akibat berbagai kendala teknis dan manajerial di lapangan.
Eksperimen Orkestra yang Sinematik
Shane Filan, Kian Egan, dan Nicky Byrne menawarkan konsep yang berbeda dari konser stadion biasanya. Menggandeng String Orchestra of Surabaya, Westlife menyajikan atmosfer yang lebih intim dan mewah.
Pertunjukan dibuka tepat pukul 20.00 WIB dengan lagu ‘When You’re Looking Like That’. Walau sempat terasa ada disonansi energi di awal karena tempo cepat yang bertemu aransemen orkestra, suasana mencair saat memasuki segmen ballad. Lagu-lagu seperti ‘Swear It Again’ dan ‘My Love’ tampil dengan dimensi baru yang lebih sinematik berkat balutan biola dan cello.
Vokal Shane Filan dinilai tetap prima dan stabil setelah dua dekade berkarir, didukung harmonisasi solid dari Nicky dan Kian yang menepis keraguan soal performa vokal mereka di usia saat ini.
Keluhan Penonton: Tiket Mahal, Pandangan Terhalang
Di balik performa panggung yang apik, kenyamanan penonton menjadi sorotan tajam. Masalah restricted view (pandangan terbatas) menjadi keluhan utama di media sosial. Seorang penonton kategori VVIP mengaku kecewa setelah membayar hampir Rp4 juta namun hanya bisa melihat separuh layar panggung.
Kondisi serupa dialami penonton kategori Silver D dan Gold D yang pandangannya terhalang, bahkan ada yang tertutup oleh unit AC. Selain masalah pandangan, beberapa poin krusial yang dikritik penonton meliputi:
- Sistem Penomoran Kursi: Pengaturan nomor kursi dan petunjuk arah yang membingungkan membuat penonton kesulitan menemukan tempat duduk.
- Layout yang Sempit: Jarak antar kursi yang terlalu berdempetan di kategori VVIP membuat pergerakan terbatas dan pandangan terganggu oleh penonton lain yang berlalu-lalang.
- Manajemen Waktu & Alur: Jadwal konser dilaporkan molor tanpa penjelasan memadai, serta sistem penukaran tiket yang dinilai semrawut.
- Fasilitas Venue: Suhu ruangan terasa panas akibat sistem pendingin udara yang tidak optimal di tengah kondisi penonton yang berdesakan.
Kebijakan panitia yang mengizinkan perpindahan kategori tiket secara sepihak di lokasi juga dinilai tidak adil bagi pemegang tiket mahal.
Klimaks Emosional di Tengah Kritik
Terlepas dari kendala logistik, Westlife tetap tampil profesional hingga akhir acara. Puncaknya terjadi saat lagu ‘You Raise Me Up’ dibawakan, menciptakan perpaduan emosional antara vokal grup, orkestra, dan koor massal ribuan penggemar.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak promotor, Folagocorp, terkait berbagai keluhan tersebut. Setelah Surabaya, Westlife dijadwalkan melanjutkan tur ke Jakarta pada 10 Februari 2026 di NICE PIK 2, dan menutup kunjungan di Candi Prambanan, Yogyakarta pada 12 Februari 2026. Publik berharap adanya evaluasi menyeluruh agar kendala teknis serupa tidak terulang di kota selanjutnya. (*)