Connect with us

Info

Jangan Sampai Salah Kostum! Ini Starter Pack Wajib Nonton Festival Outdoor Biar Tetap Kece dan Nyaman

Published

on

Musim festival musik outdoor sudah di depan mata! Menonton konser di lapangan terbuka seperti Jazz Gunung, Joyland, atau festival lokal lainnya memang menawarkan euforia yang beda. Tapi ingat, tantangan nonton di luar ruangan itu nyata: mulai dari cuaca panas yang menyengat, debu, sampai tiba-tiba hujan turun.

Biar kamu nggak cuma menang di gaya tapi juga tetap nyaman sampai headliner naik panggung, yuk siapkan Starter Pack Festival Outdoor berikut ini!

1. Outfit: Pilih “Breathable” dan “Layering”

Kunci utama festival outdoor adalah kenyamanan. Pilih bahan pakaian yang menyerap keringat seperti katun atau linen.

  • Pro Tip: Gunakan teknik layering. Pakai outer ringan seperti kemeja flanel atau jaket denim yang bisa dilepas-pasang. Selain bikin penampilan makin estetik ala Coachella, outer ini berguna saat suhu mulai turun di malam hari.

2. Alas Kaki: Lupakan Heels, Sneaker is King!

Kamu bakal berdiri, berjalan dari satu stage ke stage lain, hingga berjingkrak selama berjam-jam di atas rumput atau tanah.

  • Wajib: Pakai sneakers yang sudah “pecah” (nyaman dipakai) atau boots jika medannya diprediksi becek. Jangan sekali-kali pakai sandal jepit atau heels kalau nggak mau kaki lecet sebelum acara selesai.

3. Tas: Kecil tapi Muat Segalanya

Hindari membawa ransel besar yang bakal merepotkanmu di tengah kerumunan.

  • Rekomendasi: Sling bag kecil atau fanny pack (tas pinggang). Pastikan tasmu punya pengaman yang baik untuk menyimpan barang berharga seperti ponsel dan dompet. Cek juga aturan promotor, biasanya mereka mewajibkan tas transparan (PVC bag) di beberapa event.

4. Amunisi “Tempur” di Dalam Tas

Siapkan barang-barang esensial ini agar pengalaman menontonmu bebas drama:

  • Powerbank: Wajib! Kamu nggak mau kan HP mati saat momen lagu favorit dibawakan?
  • Jas Hujan Plastik (Poncho): Lebih praktis dan ringan dibanding payung, plus biasanya payung dilarang dibawa masuk ke area penonton.
  • Kacamata Hitam & Sunscreen: Lindungi mata dan kulit dari sinar UV yang jahat selama show siang hari.
  • Tisu Basah & Hand Sanitizer: Area festival seringkali berdebu, dan fasilitas sanitasi terkadang jauh dari jangkauan.

5. Botol Minum Lipat (Tumblr)

Banyak festival sekarang yang menyediakan water station gratis untuk mengurangi sampah plastik. Membawa botol minum lipat akan sangat menghemat kantong dan membantu kamu tetap terhidrasi tanpa harus mengantre lama di booth minuman. (*)

Continue Reading

Info

Intip Jadwal Lengkap Rangkaian Perayaan Grebeg Suro 2026 di Ponorogo

Published

on

PONOROGO – Agenda budaya tahunan yang paling megah dan dinanti di Jawa Timur, Grebeg Suro 2026, resmi bergulir. Kota Ponorogo siap memanjakan warga lokal dan wisatawan dengan menyajikan puluhan festival seni, tradisi, hingga kompetisi olahraga yang berlangsung maraton selama hampir dua bulan penuh, mulai 19 Mei hingga 13 Juli 2026.

Rangkaian perayaan akbar yang diunggah oleh akun @reyogpedia ini mengombinasikan pelestarian budaya adiluhung dengan perputaran ekonomi kreatif masyarakat Bumi Reog.

Sajian Utama: Duet Festival Reog Remaja XXII dan Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI

Bagi pencinta seni pertunjukan, puncak magnet dari Grebeg Suro tahun ini tentu saja terletak pada kompetisi tari Reog yang berkelas nasional. Berdasarkan jadwal resmi, ada dua kompetisi besar yang akan memanaskan Panggung Utama:

  • Festival Reog Remaja XXII: Digelar pada 7–10 Juni 2026, mulai pukul 19.00 WIB.
  • Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI: Digelar pada 11–14 Juni 2026, mulai pukul 19.00 WIB.

Sebelum itu, upacara pembukaan (Opening Ceremony) Grebeg Suro beserta pembukaan FRR XXII dan FNRP XXXI 2026 bakal digeber secara spektakuler pada Sabtu, 6 Juni 2026 malam di Panggung Utama. Sementara untuk pengumuman juara dan penutupan (Closing Ceremony) dilaksanakan pada 15 Juni 2026.

Sarat Tradisi Sakral Menjelang 1 Suro

Selain panggung festival modern, esensi kesakralan Grebeg Suro tetap dijaga ketat lewat rangkaian ritual adat menjelang pergantian tahun baru Islam. Beberapa prosesi penting yang dijadwalkan antara lain:

  • Ziarah Makam: Mengunjungi makam leluhur seperti Batoro Katong hingga TMP Wira Patria pada 14 Juni 2026 pagi.
  • Bedol Pusaka: Ritual pelepasan pusaka yang didahului dengan macapatan di Pringgitan Kota Lama pada 14 Juni 2026 malam pukul 23.00 WIB.
  • Kirab Pusaka & Jamasan Pusaka: Pawai lintas sejarah dari Kota Lama menuju Paseban yang digelar siang hari pada 15 Juni 2026.
  • Laku Tirakatan & Larungan Telaga Ngebel: Prosesi laku prihatin malam hari disusul dengan ritual Larungan di Telaga Ngebel pada 16 Juni 2026 pagi hari pukul 06.00 WIB.

Dari Kontes Bonsai, Vespakultural, hingga Rockfest!

Grebeg Suro 2026 membuktikan diri sebagai festival yang inklusif untuk semua komunitas. Selama bulan Juni dan Juli, penonton juga akan disuguhi acara alternatif yang tidak kalah seru, seperti Grebeg Bonsai Bumi Reog (3–9 Juni), Vespakultural di Monumen Reog (13 Juni), Parade Sepeda Unto (13–14 Juni), hingga konser musik cadas Grebeg Suro Rockfest 2026 di Panggung Utama (20–21 Juni).

Para penggila otomotif juga ditantang lewat ajang Grebeg Suro Adventure Offroad VII Tingkat Nasional (25–28 Juni), Jatim Racing Series KEJURPROV ’26 di Aloon-Aloon Ponorogo (27–28 Juni), dan Adventure Trail (5 Juli).

Seluruh rangkaian mega-event ini nantinya akan ditutup secara bertahap melalui prosesi Grebeg Tutup Suran di Kecamatan Kauman dan ritual penutup Simaan Moloekatan di Kompleks Makam Masjid Batoro Katong pada 13 Juli 2026. (*)

Continue Reading

Info

Sindrom ‘Semua Harus Masuk Kamera’: Apakah Blokade Layar HP Merusak Kenyamanan Nonton Konser Zaman Sekarang?

Published

on

Ada sebuah pemandangan yang kini menjadi “menu wajib” setiap kali kita melangkah ke dalam venue konser musik atau festival. Begitu lampu panggung meredup dan intro lagu hit mulai berkumandang, ratusan hingga ribuan smartphone langsung diangkat ke udara secara serentak.

Lautan manusia yang tadinya bersiap bergoyang, mendadak berubah menjadi lautan layar menyala. Fenomena ini memicu sebuah sindrom baru di era digital: Sindrom “Semua Harus Masuk Kamera.”

Pertanyaannya, apakah obsesi untuk merekam setiap detik pertunjukan ini mulai merusak esensi dan kenyamanan menonton konser itu sendiri?

Menonton Konser Lewat Layar 6 Inci

Ironi terbesar dari konser zaman sekarang adalah ketika seseorang rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi melihat sang idola secara langsung, namun sepanjang dua jam pertunjukan, mata mereka justru terpaku pada layar ponsel berukuran 6 inci. Mereka sibuk memastikan fokus kamera tetap tajam, mengatur pencahayaan, hingga memantau apakah story Instagram mereka sudah berhasil terunggah.

Tanpa disadari, perilaku ini menciptakan blokade visual bagi penonton di barisan belakang. Bagi penonton yang bertubuh kurang tinggi, perjuangan melihat panggung kini bukan lagi sekadar bersaing dengan kepala orang di depan, melainkan harus menembus celah-celah acungan ponsel yang menghalangi pandangan.

Konser yang seharusnya menjadi ruang komunal untuk melepaskan emosi, menari, dan bernyanyi bersama, perlahan bergeser menjadi ruang dokumentasi massal yang kaku.

Ancaman Hilangnya Koor Raksasa yang Organik

Satu hal yang membuat konser musik begitu magis adalah energi kolektif yang tercipta secara organik. Koor raksasa yang menggema, tepuk tangan yang kompak, hingga interaksi spontan antara musisi dan audiens adalah nyawa dari sebuah pertunjukan langsung.

Namun, ketika sebagian besar tangan penonton sibuk menggenggam ponsel, atmosfer tersebut perlahan memudar. Tepuk tangan berkurang karena satu tangan sibuk memegang device, dan suara sing-along terkadang tertahan karena takut merusak kualitas audio rekaman video sendiri. Alih-alih meresapi ambiens dan getaran audio bass yang menghentak dada, fokus audiens terpecah demi menghasilkan konten yang estetik.

Gerakan ‘No Phone Policy’ dan Kerinduan Masa Lalu

Kondisi ini memicu reaksi dari beberapa musisi dunia maupun promotor yang mulai menerapkan aturan ketat terkait penggunaan ponsel. Beberapa konser internasional kini mewajibkan penonton memasukkan ponsel mereka ke dalam kantong khusus yang terkunci (Yondr pouch) selama acara berlangsung.

Tujuannya jelas: mengembalikan penonton ke realitas saat ini (present moment). Memaksa audiens untuk benar-benar hadir secara utuh, menikmati musik dengan telinga dan mata telanjang, serta menghargai setiap momen intim yang terjadi di atas panggung tanpa intervensi digital.

Memang, mendokumentasikan momen spesial sebagai kenang-kenangan atau ajang berbagi kebahagiaan di media sosial adalah hal yang sah-sah saja. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tentu akan mengorbankan kenyamanan bersama. (*)

Continue Reading

Info

Libur Iduladha di Surabaya Dimeriahkan Festival Tepi Pantai THP Kenjeran

Published

on

SURABAYA – Memanfaatkan momen libur dan cuti bersama Iduladha, Festival Tepi Pantai resmi dibuka di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya. Menurut laporan dari Harian Disway, masyarakat langsung berbondong-bondong memadati salah satu destinasi wisata pesisir favorit warga Kota Pahlawan tersebut sejak hari pertama pembukaan.

Festival Tepi Pantai ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan, festival ini menyajikan berbagai keseruan mulai dari bazar, kompetisi olahraga, games interaktif, hingga atraksi hiburan menarik yang dijadwalkan berlangsung sampai 31 Mei.

Keseruan Games Tebak Lagu Lawas dan Mukbang Challenge

Salah satu momen paling meriah terjadi saat panitia mengajak pengunjung bermain game tebak judul lagu lawas lewat kode gambar di layar panggung. Suasana sempat riuh ketika peserta bernama Hasbi Ahmad Satria kesulitan menebak clue gambar orang menyilangkan tangan dan kakek di bangku taman. setelah sempat salah menebak “Tidak mau merenung”, Hasbi akhirnya sukses menebak lagu hits Bunga Citra Lestari bertajuk Aku Tak Mau Sendiri setelah dipandu kode oleh panitia.

“Padahal, tadi cuma kebetulan lewat dekat panggung. Lalu, diminta ikut main game dan menang. Tidak menyangka,” ujar pemuda kelahiran 2007 itu dengan riang kepada Harian Disway, setelah berhasil membawa pulang goodie bag hadiah.

Tak kalah heboh, festival ini juga menggelar mukbang challenge mi pedas Korea yang diikuti oleh 10 peserta. Aturannya cukup menantang: mereka wajib menghabiskan semangkuk mi super pedas dalam waktu dua menit tanpa boleh minum air sama sekali. Tiga peserta paling cepat sukses keluar sebagai pemenang, sementara sisanya harus puas membawa pulang sensasi rasa pedas di lidah.

“Ini pertama kalinya ikut mukbang challenge makan mi pedas. Saya berharap, kalau ada acara seperti ini lagi di lain waktu, semoga bisa menang,” ungkap Muhammad Zahir (24), salah satu peserta asal Surabaya.

Wadah Aktivitas Outdoor dan Piala Wali Kota

Bagi pengunjung yang menyukai tantangan fisik, Festival Tepi Pantai juga menyediakan berbagai aktivitas luar ruangan yang membutuhkan keahlian khusus, seperti berkuda hingga olahraga panjat dinding (wall climbing).

Berbarengan dengan agenda ini, Pemerintah Kota Surabaya turut menyemarakkan HJKS ke-733 dengan menggelar kompetisi olahraga bertajuk Piala Wali Kota (Pilwali) Surabaya khusus untuk kalangan pelajar. Ragam cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi bola basket, pushbike, cheerleaders, hingga handball beach atau bola tangan pantai.

Hadirnya festival ini menjadi alternatif hiburan akhir pekan yang positif dan edukatif bagi generasi muda Surabaya untuk menyalurkan bakat serta minat mereka, mulai dari bidang olahraga, ketangkasan, hingga seni dan budaya lokal. (*)

Continue Reading

Trending