Ada sebuah pemandangan yang kini menjadi “menu wajib” setiap kali kita melangkah ke dalam venue konser musik atau festival. Begitu lampu panggung meredup dan intro lagu hit mulai berkumandang, ratusan hingga ribuan smartphone langsung diangkat ke udara secara serentak.
Lautan manusia yang tadinya bersiap bergoyang, mendadak berubah menjadi lautan layar menyala. Fenomena ini memicu sebuah sindrom baru di era digital: Sindrom “Semua Harus Masuk Kamera.”
Pertanyaannya, apakah obsesi untuk merekam setiap detik pertunjukan ini mulai merusak esensi dan kenyamanan menonton konser itu sendiri?
Menonton Konser Lewat Layar 6 Inci
Ironi terbesar dari konser zaman sekarang adalah ketika seseorang rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi melihat sang idola secara langsung, namun sepanjang dua jam pertunjukan, mata mereka justru terpaku pada layar ponsel berukuran 6 inci. Mereka sibuk memastikan fokus kamera tetap tajam, mengatur pencahayaan, hingga memantau apakah story Instagram mereka sudah berhasil terunggah.
Tanpa disadari, perilaku ini menciptakan blokade visual bagi penonton di barisan belakang. Bagi penonton yang bertubuh kurang tinggi, perjuangan melihat panggung kini bukan lagi sekadar bersaing dengan kepala orang di depan, melainkan harus menembus celah-celah acungan ponsel yang menghalangi pandangan.
Konser yang seharusnya menjadi ruang komunal untuk melepaskan emosi, menari, dan bernyanyi bersama, perlahan bergeser menjadi ruang dokumentasi massal yang kaku.
Ancaman Hilangnya Koor Raksasa yang Organik
Satu hal yang membuat konser musik begitu magis adalah energi kolektif yang tercipta secara organik. Koor raksasa yang menggema, tepuk tangan yang kompak, hingga interaksi spontan antara musisi dan audiens adalah nyawa dari sebuah pertunjukan langsung.
Namun, ketika sebagian besar tangan penonton sibuk menggenggam ponsel, atmosfer tersebut perlahan memudar. Tepuk tangan berkurang karena satu tangan sibuk memegang device, dan suara sing-along terkadang tertahan karena takut merusak kualitas audio rekaman video sendiri. Alih-alih meresapi ambiens dan getaran audio bass yang menghentak dada, fokus audiens terpecah demi menghasilkan konten yang estetik.
Gerakan ‘No Phone Policy’ dan Kerinduan Masa Lalu
Kondisi ini memicu reaksi dari beberapa musisi dunia maupun promotor yang mulai menerapkan aturan ketat terkait penggunaan ponsel. Beberapa konser internasional kini mewajibkan penonton memasukkan ponsel mereka ke dalam kantong khusus yang terkunci (Yondr pouch) selama acara berlangsung.
Tujuannya jelas: mengembalikan penonton ke realitas saat ini (present moment). Memaksa audiens untuk benar-benar hadir secara utuh, menikmati musik dengan telinga dan mata telanjang, serta menghargai setiap momen intim yang terjadi di atas panggung tanpa intervensi digital.
Memang, mendokumentasikan momen spesial sebagai kenang-kenangan atau ajang berbagi kebahagiaan di media sosial adalah hal yang sah-sah saja. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tentu akan mengorbankan kenyamanan bersama. (*)